Ironis Sekali Negeri Ini


Jika beberapa hari lalu masyarakat dikejutkan dengan peristiwa pembakaran rumah milik jemaat Ahmadiyah oleh sekelompok ormas tertentu dan telah menewaskan tiga orang diantaranya. Kini kejadian serupa terulang kembali didaerah Temanggung. Tiga rumah ibadah (gereja) dirusak dan dibakar oleh massa ormas tertentu. Kemarahan massa dilatarbelakangi adanya putusan hakim (vonis) yang diberikan kepada pelaku penistaan agama dinilai terlalu rendah. Atas dasar itu massa kemudian melampiaskan emosinya dengan merusak kantor PN Temanggung, membakar mobil polisi serta merusak dan membakar tiga gereja yang lokasinya tidak jauh dari PN Temanggung.

Tak habis pikir dalam benak saya kejadian demi kejadian dengan tema kekerasan atas nama agama terus mewarnai perjalanan negeri ini. Hampir setiap tahun pasti ada saja kejadian yang membuat hati kita sesak dan marah melihat kelakuan para suci negeri ini beraksi. Hanya untuk membuktikan orang  lain salah maka harus membuktikan dirinya merasa paling benar. Alhasil bukan kebenaran yang mampu mereka buktikan namun yang ada hanya pembenaran. Merasa paling benar sendiri sehingga tak salah jika memusnahkan siapapun yang yang berbeda paham dengannya. Seakan mereka tahu akan keinginan Tuhan sehingga siapapun yang menistakan Tuhan layak untuk dihabisi. Apakah sedemikian kejamnya Tuhan itu sehingga umatnya harus sekejam ini. Hanya berbekal restu dari Tuhan siapapun akan menjadi musuh jika menghalangi keinginan yang mereka klaim  sebagai keinginan Tuhan. Atas nama Tuhan darah dari orang yang berseberanganpun layak untuk dihabisi. Merasa paling benar dengan berada dijalan Tuhan sehingga siapapun yang bukan berada dijalan Tuhan pantas untuk dimusnahkan. Hak Tuhan sebagai Hakim yang Agungpun harus dicuri oleh mereka yang merasa sebagai satu-satunya wakil Tuhan dimuka bumi ini. Sungguh ironis sekali bukan??

Perhatian sayapun tak terlepas dari tindakan para suci negeri ini yang melecehkan Pengadilan. Hanya karena mereka tidak puas dengan vonis yang diterima terdakwa kemudian melampiaskan amarahnya pada jaksa dan hakim yang seharusnya dihormati karna jabatannya. Bukan hanya itu saja merekapun manggung (membuat onar) di PN Temanggung. Pengadilan yang sejatinya adalah tempat sakral harus ternoda oleh ulah para suci negeri ini. Dimana kekuasaan hakim sebagai legitimasi dari kekuasaan Tuhan dan Pengadilan sebagai perpanjangan tangan dari Pengadilan Tuhan ternyata tidak membuat mereka yang katanya orang-orang kesayangan Tuhan hormat padanya. Jikalau demikian apalah artinya mereka menghormati nama Tuhan namun tidak menghormati institusi paling sakral yang merepresentasikan keadilanNya. Apakah dengan membawa nama Tuhan mereka layak menggantikan tugas hakim sebagai wakil Tuhan dimuka bumi ini. Menghakimi siapapun yang tidak menuruti keinginan mereka yang diklaim sebagai keinginan Tuhan. Sungguh ironis sekali bukan??

Anehnya lagi pemerintah sebagai penguasa publik domain harus takluk kepada mereka segelintir ormas. Konstitusi sebagai hukum tertinggi di negeri ini seperti tak ada artinya. Negara yang seharusnya mempunyai kewajiban melindungi warga negaranya sesuai dengan amanat konstitusi terus dan terus melakukan pembiaran. Hak untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya hanya sebuah retorika dan janji semata dari negara. Semboyan negara kita yang berbunyi “Berbeda-Beda Tetap Satu Tujuan” kini berubah menjadi “Bersama-Sama Untuk Satu Tujuan”. Parahnya lagi polisi yang sejatinya adalah alat negara pada kenyataanya justru menjadi alat bagi golongan tertentu. Polisi yang seharusnya berdiri diatas semua golongan ternyata malah bermain madu dengan golongan tertentu. Tak berani tegas dan cenderung memihak kepada salah satu pihak  merupakan cara paling aman menjadi polisi negeri ini. Seperti film-film di India, polisi negeri inipun segera bertindak ketika adegan kekerasan sudah usai. Dan kaki tangan Presiden seperti Kementrian Agama yang semestinya kementrian milik semua agama kenyataannya hanya dimiliki oleh agama tertentu saja. Kementrian yang seharusnya dipimpin oleh seorang menteri yang bijak namun justru dinahkodai oleh seorang menteri yang berpihak. Menteri sebagai otoritas tertinggi bidang keagamaan yangmana seharusnya merangkul semua golongan namun pada prakteknya justru menghambakan diri menjadi kaki tangan dan susu perah golongan tertentu. Ironis sekali bukan??

Sungguh ironis sekali negeriku ini. Ironis sekali bukan??

*Maaf bahwa didalam tuisan ini tak ada unsur kebencian terhadap suatu agama tertentu yang ada hanyalah keprihatinan terhadap oknum-oknum ormas yang mengatasnamakan agama tertentu.  Dan melalui ini  ingin berbagi opini saja bahwasannya inilah  keadaan negeri kita sesungguhnya yang semakin hari semakin ironis. Semoga keironisan ini mampu mengubah negeri ini untuk semakin sadar akan pentingnya arti religius tanpa mengenyampingkan rasa toleran. Semoga dan semoga.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: